Skip to main content

Pengembangan dan penerapan empat-tier tes untuk menilai kepersiapan guru fisika pada miskonsepsi tentang optik geometris



Peserta didik harus memiliki konsep awal seblum masuk ke dalam kelas untuk menghindari kesalahpahaman konsep supaya tidak bertentangan. pemahaman belajar siswa harus diidentifikasi dari yeng benar untuk menghindari miskonsepsi dalam pembelajaran.
Berikut merupakan tahapan untuk mengetahui miskonsepsi antara lain dapat menyatakan definisi yang benar, mereproduksi bukti, memecahkan masalah, informasi yang cukup rinci. identifikasi yang benar dari kesalahpahaman adalah penting Langkah pertama untuk memperoleh pemahaman belajar siswa. ditemukan efektif dalam menilai kesalahpahaman dengan menggunakan empat-tier tes pilihan ganda.
Pengembangan pengujian dan aplikasi prosedur terdiri dari empat tahap utama. Ini adalah: wawancara, membangun dan pengadministrasian tes terbuka, membangun dan pengadministrasian uji coba, dan mengembangkan serta mengelola tes empat-tier (FTGOT). Kemudian tahap kedua penelitian ini, desain survei cross-sectiona dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
korelasi positif antara skor yang benar yang PSPTs' mengingat hanya tingkatan pertama dari FTGOT dan nilai kepercayaan diri mereka untuk lapis ini ( r = . 194) dan antara skor yang benar mempertimbangkan pertama dan ketiga tingkatan dan skor keyakinan untuk kedua orang tingkatan ( r = . 218) ditemukan sebagai bukti untuk validitas konstruk. Positif palsu (3,5%), negatif palsu (3,3%) dan kurangnya pengetahuan (5,1%) persentase yang ditemukan menjadi kurang dari 10% sebagai bukti validitas isi dari nilai tes. Analisis faktor Penjelasan dilakukan selama skor yang benar dan kesalahpahaman menghasilkan faktor yang bermakna untuk skor yang benar sebagai bukti validitas konstruk. Selain itu, koefisien alpha Cronbach dihitung untuk skor yang benar ( r = 0.59) dan kesalahpahaman skor ( r = 0.42) untuk menetapkan keandalan nilai tes. Enam kesalahpahaman tentang optik geometris, diidentifikasi dan dianggap signifikan.
Dapat disimpulkan bahwa FTGOT adalah instrumen yang valid dan dapat diandalkan dalam menilai kesalahpahaman di optik geometris.

Comments

Popular posts from this blog

ESSAY TENTANG FASILITAS BELAJAR DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Gambaran tentang Fasilitas Belajar Seberapa pentingnya fasilitas belajar dalam proses pembelajaran? Tidak dapat dipungkiri bahwa Sarana dan prasarana sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Untuk itu fasilitas belajar merupakan modal awal untuk mencerdaskan siswa dan sebagai pendorong motivasi dalam belajar. Menurut Popi Sopiatin (2010) Fasilitas belajar adalah merupakan sarana dan prasarana yang harus tersedia untuk melancarkan kegiatan pendidikan di sekolah. Sarana adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabotan yang secara langsung digunakan untuk proses pendidikan di sekolah, meliputi gedung, ruang belajar/kelas, media belajar, meja dan kursi. Sedangkan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, meliputi halaman sekolah, taman sekolah, dan jalan menuju ke sekolah. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa fasilitas belajar bermasud agar pengajaran kepada siswa dapatberjalan dengan lancar, teratur, ef...

Pendapat Tentang fasilitas belajar menentukan hasil belajar siswa?

Secara pribadi saya menyatakan bahwa pro terhadap fasilitas belajar menentukan hasil belajar siswa diawali dengan merujuk Popi Sopiatin (2010) yang menyatakan bahwa Fasilitas belajar adalah merupakan sarana dan prasarana yang harus tersedia untuk melancarkan kegiatan pendidikan di sekolah. Sarana adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabotan yang secara langsung digunakan untuk proses pendidikan di sekolah, meliputi gedung, ruang belajar/kelas, media belajar, meja dan kursi. Sedangkan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, meliputi halaman sekolah, taman sekolah, dan jalan menuju ke sekolah. Lebih luas fasilitas dpat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan melancarkan pelaksanaan suatu usaha yang dapat memudahkan dan melancarkan usaha ini dapat berupa benda maupun uang. Jadi dalam hal ini fasilitas dapat disamakan dengan sarana (Arikunto, 2008). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa fasili...

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN KOLABORATIF

1.      Pembelajaran Kontektual Riyanto, Y dalam Paradigma Baru Pembelajaran; sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembeajaran yang Efektif dan Berkualitas menjelaskan yaitu Model kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran. kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi. Indikato...